Homeschooling – Anak anda trauma dibully? Malas pergi ke sekolah?  atau Anda takut  anak anda terkena pengaruh buruk, narkoba atau tawuran misalnya, dari teman-temannya?  atau Anda, ibunya, malas menunggui anak anda di sekolah dan malas pula berinteraksi dengan ibu-ibu lainnya di sekolah? Pertanyaan terakhir benar dialami  seorang ibu yang bercerita kepada saya bahwa aktifitas rutin mengantar, menunggui, menjemput  anak di sekolah sampai berinteraksi dengan ibu-ibu lainnya di sekolah sebenarnya adalah ‘fobia’ buat dia. Hal ini disebabkan oleh watak pemalu dan introvertnya yang terbukti menghambat pergaulan sosialnya.

Homeschooling

Ini adalah sebuah alternatif sistem pendidikan formal yang sudah diakui negara, Homeschooling atau sekolah mandiri di rumah. Baru beberapa tahun belakangan menjadi trend bagi pendidikan di Indonesia meskipun di Amerika atau negara maju lainnya, sudah jauh lebih maju dengan konsep pendidikan homeschooling-nya sudah sampai tingkat universitas.

Adalah Kak Seto yang memperkenalkan konsep homeschooling di Indonesia, yang tak lama kemudian bermunculan beberapa homeschooling lain seperti  Fikar School (FS), Ehugheschooling (ehs), Prima Mandiri Homeschooling di Jakarta Selatan, Morning Star Academy, dan banyak lagi. Dengan harga beragam disertai keunggulan program yang ditawarkan masing-masing homeschooling, kesemuanya itu menjadikan homeschooling sebagai alternatif pendidikan yang dimasa datang cukup potensial berkembang di Indonesia.

Homeschooling semakin pesat berkembang setelah sejak tahun 2011 Ujian Negara untuk homeschooling diselenggarakan langsung di bawah Departemen Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dan  pemerintah memberi dukungan dengan menempatkan homeschooling di bawah payung divisi pendidikan formal, bukan lagi non-formal.  Seperti juga memasukkan nilai raport sebagai bagian dari nilai Ujian Nasional diterapkan pada sekolah formal juga sama diterapkan pada homeschooling. Sama halnya dengan pembuatan soal-soal Ujian Kesetaraan, juga disusun oleh divisi formal dengan standar yang sama dengan Ujian Nasional.

Seto Mulyadi, pengamat pendidikan dan aktivis anak, melihat fenomena maraknya homeschooling itu disebabkan karena belum terwujudnya sistem pendidikan yang nyaman dan ramah bagi anak. “Selama ini sekolah formal menjadi semacam pelaksana robotisasi membuat anak seperti robot,” jelas Kak Seto lagi. Maka, menurut Kak Seto, proses belajar pun dapat cenderung kepada kekerasan fisik dan psikologis. Apalagi dengan kurikulum yang padat, ditambah pekerjaan rumah yang bertumpuk, mengakibatkan banyak murid yang merasa tertekan. Pada akhirnya memunculkan tingkat agresivitas yang relatif tinggi, seperti bullying. “Di Jawa Barat saja ditemukan 60% murid sekolah dasar yang mengalami bullying. Belum lagi ditingkat SMP atau SMU. Kekerasan sekolah diperburuk dengan narkoba, tawuran, dan semacamnya. Akibatnya, banyak yang mogok sekolah,” ujar Kak Seto. Kondisi inilah yang mendorong Kak Seto ikut menyelenggarakan Homeschooling Kak Seto (HSKS) pada 2003 dan pada 2016 Kak Seto bersinergi dengan salah satu homeschooling yaitu Fikar School dengan menjadi Dewan Penasihat.

Hal-hal diatas membuat homeschooling secara berangsur mengalami perubahan, dari lembaga non-formal menjadi sebuah lembaga formal yang diakui negara. Namun ini bukanlah proses yang mudah, karena setiap homeschooling nantinya akan dituntut memiliki kemampuan yang sama dengan lembaga formal. Bahkan sudah ada homeschooling yang telah menerapkan standar internasional dalam pendidikan siswanya meski biaya yang dikenakan relatif mahal, karena mensyaratkan pengajar-pengajar yang menguasai bahasa asing. Selain mengikuti ujian negara, mereka juga mengikuti ujian lain dari Cambride College, misalnya.

Di Indonesia sendiri, konsep sekolah rumah atau Homeschooling sudah sejak lama diterapkan oleh sebagian kecil masyarakat kita. Pondok-pondok pesantren adalah contohnya dimana para Kiai secara khusus telah mendidik anak-anaknya sendiri mengenal agama.

Tokoh-tokoh terkenal, seperti KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka juga mengembangkan cara belajar dengan konsep bersekolah di rumah. Metode ini dijalankan bukan hanya sekedar agar anak didik lulus ujian kemudian menenteng ijazah, namun agar lebih mencintai dan punya semangat yang tinggi dalam mengembangkan ilmu yang dipelajari.

Berikut ini kami kupas salah satu Homeschooling pelopor Coaching Method dan telah bersinergi dengan Kak Seto sebagai pemilik Homeschooling Kak Seto dan Sekolah Kak Seto yaitu Homeschooling Fikar School.

Homeschooling Fikar School

Homeschooling

Dengan Seto Mulyadi atau biasa dipanggil kak Seto sebagai dewan pembinanya sejak Maret 2016, di homeschooling Fikar School, setiap anak dihargai potensi dan keinginannya, karena hal-hal itulah yang membuat setiap orang unik. Homeschooling ini menitikberatkan pada observasi dan mengarahkan potensi yang dimiliki setiap siswa pada usia sedini mungkin. Fikar School akan membimbing setiap anak didiknya untuk meraih prestasi secara maksimal menurut potensi dan keinginannya. Fikar School memiliki misi untuk mewujudkan manusia Indonesia agar memiliki jiwa kepemimpinan, daya juang berusaha (enterprenership) sekaligus memiliki spiritualitas tinggi. Tidak hanya itu Fikar School juga fokus agar setiap anak didiknya bisa mencapai prestasi yang baik secara akademis.

Demi tujuan untuk mengembangkan potensi dan keinginan setiap anak didiknya, setiafikar school homeschoolingp siswa di Fikar School diberikan dengan apa yang disebut Konstelasi Pembelajaran Fikar School yang terdiri atas: Kelas harian, Kelas pembentukan karakter dan agama, Kelas darmawista, Aktifitas Ekstrakurikuler, dan Coaching atau pelatihan.

Sesi pelatihan atau coaching dilakukan secara  teratur dengan pendekatan private terhadap setiap anak didik Fikar School.  Sesi pelatihan ini terdiri atas 3 hal yaitu: tes bakat, sesi sharing atau diskusi dan observasi.

Tes bakat untuk menganalisa kecerdasan sesuai teori Multiple Intelligences oleh Howard Gardner yang membagi kecerdasan menjadi 8 bagian, yaitu:

  • Kecerdasan visual
  • Kecerdasan verbal
  • Kecerdasan Interpersonal
  • Kecerdasan Musik
  • Kecerdasan kinestetik
  • Kecerdasan Intrapersonal
  • Kecerdasan matematis

Dalam sesi sharing, setiap siswa diminta membangun sebuah rencana untuk masa depannya. Disini diharapkan akan terjalin diskusi yang hidup antara pelatih dan siswanya. Rencana masa depan ini akan dimonitor lagi setidaknya sekali sebulan untuk melihat sejauh mana usaha pencapaian untuk itu.

Observasi adalah alat yang efektif untuk melihat potensi setiap siswa. Potensi setiap siswa ini akan dibahas secara serius dalam rapat guru dengan tujuan akhir setiap pengajar dapat lebih meninjau ulang untuk mengembangkan setiap potensi siswa.

Aktifitas ekstrakurikuler dapat dilakukan di dalam maupun di luar sekolah. Fikar School berkolaborasi dengan beberapa penyelenggara pendidikan non-formal seperti sekolah musik, sekolah sepakbola Villa 2000 Football club, dan sekolah melukis.

Filosofi Fikar School berdasarkan teori Multiple Intelligences bahwa setiap anak memiliki kombinasi kecerdasan yang berbeda yang membuat setiap individu itu unik. Fokus pada daya juang berusaha, jiwa kepemimpinan dan pendidikan berbasis karakter melalui pembelajaran berdasar aktifitas.

Dengan metode ini, Fikar School akan menciptakan manusia-manusia yang sempurna secara holisitik. Misi Fikar School adalah mewujudkan manusia Indonesia yang memiliki karakter yang kuat dan perilaku yang baik. Kemudian menciptakan manusia yang menyadari keunikan dan kecerdasan dalam mengelola potensi mereka. Terakhir, untuk mewujudkan manusia Indonesia yang memiliki jiwa kepemimpinan, daya juang berusaha  sekaligus memiliki spiritual yang tinggi.

Homeschooling Fikar School saat ini ada di dua tempat yaitu Fikar School Cinere di Jl. Bandung Terusan No. 27, Cinere, Depok Telp. 021-7548749 Email: cinere@fikarschool.com dan Fikar School Rempoa di Komp. Puri Flamboyan Pesona E-3 No.8, Rempoa, Tangsel Telp. O21-7361684  Email: rempoa@fikarschool.com

Save

Save

Save

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *